Fellowship

Posted: 2nd April 2012 by owenshinoda in Just a Word.., learn to be the disciple of Jesus

Fellowship, apa itu ya? Kalo definisi dari kamus “Oxford Learner’s Pocket Dictionary”, fellowship (adj) of the same group of kind, fellowship (noun): 1. (u) felling of friendship; 2. (c0) group or society; 3. (c) position of collage fellow. Jadi, intinya fellowship adalah sekelompok manusia yang berkumpul bersama karena mereka “merasa berada” dalam 1 (satu) kesatuan (group). Karena, berkumpul bersama pasti timbullah kasih persahabatan, kasih persaudaraan, saling menumbuhkan sesama, saling memiliki dan mendukung untuk berkembang menjadi individu yang lebih baik (secara positif) maupun perselisihan, perbedaan pendapat, perbedaan pemikiran, perbedaan perspektif/cara pandang bahkan pertikaian yang membuat ada individu “merasa tidak berada dalam 1 (satu) kesatuan (group) lagi” (secara negatif). Jadi, sebenarnya apa tujuan dari sebuah fellowship? Itu kembali kepada masing-masing individu, mau bertumbuh secara positif atau negatif.

Fellowship, nampaknya sudah cukup sering digunakan oleh umat Nasrani untuk “menyebut” perkumpulan kecil mereka. Di sana, gambaran yang bisa kita tangkap adalah seperti kebaktian (read: namun mungkin sifatnya lebih akrab – tidak se-“saklek” ibadah pada umumnya) dengan tetap mengedepankan kedaulatan Tuhan dan ke-Ilahi-an Allah sebagai Juru Selamat umat manusia, memuji, menyembah, mengucap-syukur dan memuliakan Allah. Bisakah sebuah gereja yang memiliki jemaat banyak disebut fellowship? Menurut Novie masih sah-sah saja, hanya saja Novie lebih suka mendefinisikan fellowship (read: dalam artian Novie sendiri sebagai orang Kristen) adalah perkumpulan orang-orang percaya (read: orang Nasrani baik Kristen Katholik maupun Kristen Protestan dengan berbagai aliran yang ada) yang berkumpul bersama memuji, menyembah, mengucap-syukur, memuliakan Allah dan mendengarkan pemberitaan Firman Tuhan sebagai makanan wajib bagi roh, jiwa dan hatinya. Agak-agak mirip dengan arti gereja memang, namun (read: menurut Novie) jika kita menyebut kata “gereja” pasti ada “embel-embel” aliran di belakangnya. Jadi, rasanya lebih cocok jika fellowship itu disamakan seperti oikoumene.

Fellowship, karena biasa di-identik-kan dengan “gereja” pastilah berhubungan dengan pelayanan. Pelayanan di bidang apa? Banyak bisa jadi WL (worship leader), singer, choir, tim musik, usher (penerima tamu), kolektan, pembawa Firman Tuhan, bahkan sebagai pengurus inti dalam fellowship tersebut atau apapun jenis pelayanan yang kita bisa berikan untuk pekerjaan Tuhan di fellowship itu.

Fellowship, memang erat kaitannya dengan pelayanan. Dan kata sebuah iklan sebuah bank besar di Indonesi beberapa waktu lampau “Melayani berangkat dari ketulusan hati”. Apalagi pelayanan dan fellowship itu adalah “pekerjaan” roh, bukan hanya badan dan jiwa. Melayani itu berangkat dari ketulusan hati. Jadi, dalam menjalani pelayanan di sebuah fellowship maupun gereja, itu harus berangkata atau didasarin dari ketulusan hati. Pelayanan hubungannya sangat erat dengan hati. Karena, menyangkut hati (memang) sering kali banyak orang yang bertikai, berselisih dan ujung-ujungnya sakit hati.

Fellowship, melihat pemaparan di atas, apa bisa jika begitu diartikan bahwa sah-sah saja jika kita itu melayani tanpa hati. Kita membantu karena kita harus, karena itu pekerjaan kita atau karena saya juga ingin dibantu oleh dia lain kali. Tanpa mengikut-sertakan urusan “hati” ya tidak mungkin kita berhubungan dengan orang (read: revisi bukannya tidak mungkin, tapi hanya agak “sedikit” sulit jika kita berhubungan dengan sesama orang – tidak hanya di fellowship namun di dunia sekuler juga). Di lihat dari aspek manapun juga, dapat dilihat bahwa segala macam bentuk komunikasi manusia baik secara langsung maupun tidak langsung kebanyakan pasti memakai “hati”.

Fellowship tanpa hati, itu berasa makan tempe penyet tanpa sambal pedas, lalapan tanpa sambal pedas, soto tanpa daging, kecambah dan gubis, tetap bisa dinikmati tapi menimbulkan unsur hambar karena ada yang terhilang. Mau coba? Silahkan. Tapi tidak perlu dicoba pasti kita semua juga bisa merasakan, jika fellowship tanpa hati berasa hambar, masing-masing orang tidak merasakan pertumbuhan iman yang signifikan.

Fellowship, menurut pendapat Novie tidak bisa jika tidak memakai hati. Jadi, haruslah kita dapat menimbang hati kita, bertanya, merenungkan apakah motivasi melayani Tuhan Allah (termasuk mengikuti ibadah, fellowship, bergereja) selama ini dalam hidup Nobie. Cukup sulit untuk mengkoreksi diri, karena dari tulisan ini Novie “terhenyak” dan tersadarkan bahwa tidak semua hubungan fellowship Novie memakai hati. Karena ada beberapa yang Novie lakukan dengan harapan / motivasi “Supaya tidak ada yang tanya-tanya, supaya tidak ditagih terus, supaya bisa tampil, supaya banyak yang kenal Novie, supaya Papa-Mama-Koko-Adek bisa bangga, supaya bisa dekat sama si “N”, supaya lebih kenal saya si “O”, supaya bisa ketemu sama si “C” yang cakep dan cantik, supaya… supaya…” (read: hanya karena alasan “bumi”, alasan yang “egois”, yang ke-aku-an. Yang tentunya bukan karena hati Novie yang sudah terlabuh dan terpaut secara erat dengan Tuhan, sehingga Novie ingin melakukan semuanya semata-mata untuk membalas kebaikan dan penyertaan serta kasih sayang kepada Novie yang sudah Novie lakukan selama ini.

So, at the end of this post! I’ll give the floor to all the reader thinking deeply and contemplating this question…

Pernahkah saya mengikuti “fellowship tanpa hati”?

Apakah selama ini saya sudah mengikuti fellowship dan melayani Tuhan dengan ketulusan hati?

Apakah motivasi saya mengikuti fellowship dan terlibat dalam pelayanan selama ini?

Mengapa saya mau melakukan pelayanan pekerjaan Tuhan?

Marilah, kita melayani dan mengikuti fellowship dengan ketulusan hati. Karena kerja buat Tuhan SELALU manis. :D

picture from : http://oldham.urc.org.uk/?page_id=5

Kakak / Cece / Mbak / Nik / Tante / Ibu??????

Posted: 19th March 2012 by owenshinoda in C'est la vie, Just a Word..

Kakak / Cece / Mbak / Nik / Tante / Ibu, itu adalah beberapa “tambahan” yang sekarang sering melekat di depan nama Novie, while I’m spending my 27 journey. And perhaps, it is because this “casey stoner” number “27”, I’ve got two additional called name for this couple years (Tante / Ibu). Padahal sebelumnya (read: selama Novie di sekolah menengah – pertama atau atas), Novie hanya mengenal 1 (satu) panggilan paling depan yakni Kak Novie. Bingung, kenapa “penting” buat Novie sampai nge-post ini di blognya? Penting buat Novie mungkin gak penting buat all dearest readers. But, no matter what, this matter is “sesuatu” banget buat Novie, makanya Novie pengen bahas di sini. Kenapa ya, orang seperti Novie punya nama “panggilan” banyak. There a reason for anything, rite?!? :-P

Novie akan membeberkan 1 per 1 arti panggilan itu.

1. Kakak
Kakak, adalah panggilan pertama yang Novie pilih sendiri. Kapan sebenarnya panggilan itu “melekat” di depan nama Novie? Sejak Adek lahir, di tahun 1992. Awalnya, beberapa pihak keluarga juga sempat bingung dalam menyebutkan panggilan Novie ke Adek. Mengingat Novie adalah anak ke – 2 dengan perbedaan umur dengan Kakak Novie tidak terlalu jauh (kurang lebih hanya 17 bulan saja) dan selama 8 tahunan menjadi anak terakhir TANPA pernah dipanggil dengan sebutan “ADIK” (read: harusnya Novie tahu dari awal, kalo suatu saat nanti somehow Novie bakalan punya adik ya? :-P ). Sewaktu itu, almarhum Mak dan Wa’Ik sempat “menyarankan – dengan caranya” panggilan ‘cece’ untuk Novie. Tapi, setelah anak yang belum lulus sekolah tingkat dasar ini berpikir (read: Novie maksudnya :-D ) bahwa sebutan ‘cece’ itu bukan Novie banget gitu :-P
Jadi, setelah memikirkan dan memperhatikan pelajaran Bahasa Indonesia yang telah didapat selama ini, Novie prefer “Kakak”. Sebenarnya kalo ditanya, the reason why did I choose “Kakak” adalah karena Novie dan keluarga inti Novie ini tinggal di Indonesia dan Bahasa Indonesianya saudara yang lebih tua dari pada kita (baik lelaki atau wanita) adalah KAKAK.
Keep it simple, right!! *dan sangat Indonesia sekali bukan? :-P
Akhirnya, setelah itu, Novie sendiri yang insist menanamkan panggilan Kakak ke Adek – yang tentunya berjalan sampai sekarang. So, each of us have our own nickname as follow Koko (buat Erwin), Kakak (buat Novie – walau ini gak berlaku buat Koko karena gak mungkin juga Koko manggil Adiknya (yang hanya berbeda 17 bulan ini) dengan sebutkan Kakak kan? hihihi.. :-D ) and Adek (buat Adi Lukas).

2. Cece / Jie – jie (read: bahasa Tionghoa – saudara wanita yang berumur lebih tua)
Cece, kalo kakaknya dipanggil Koko ya harusnya Novie – sebagai anak tengah, wanita satu-satunya – dipanggilnya Cece. Logikanya begitu mungkin ya? ;)
Logika lain yang masuk akal adalah karena masih ada darah etnis tionghoa dari Mama Novie, jadi harusnya panggilannya juga mengikuti bagaimana kebiasaan pada etnis tersebut. Memang, Novie akui meskipun pasti prosentasenya kecil sekali (tidak dari Mama Novie langsung, but it was a long stories, next time (maybe) I will post about it in my blog :-) ). Bukti dari prosentase yang sangat kecil adalah??? Kami tidak mengetahui apa nama tionghoa dari keluarga Mama :-P (wajib di tanyakan ke Wa’Ik :-D ). Sebenarnya, latar belakang pemilihan sebutan ini supaya kami tidak “kehilangan” prosentase kecil itu tadi.
Pada jaman itu alasan Novie menolaknya adalah?
- Bukan Novie banget (secara fisik dan “dalam banyak” hal – I’m not so that Chinese as my older brother does);
- Karena Novie tinggal di Indonesia – meski dengan prosetase kecil Tionghoa – kita kan tinggal dan menetap bahkan lahir di bumi pertiwi Indonesia.
- Jaman Novie mendapatkan panggilan sebagai “saudara perempuan yang lebih tua” yakni masa sekolah dasar, jarang Novie dengar teman-teman Novie memakai kosakata itu – alasan anak SD bgt yaaaaa…. :-P .
Namun, beberapa tahun terakhir (read: khususnya sejak berkerja di tempat pekerjaan yang sudah Novie geluti sejak tahun 2008 ini dan di tempat fellowship Novie yang baru beberapa bulan ini) Novie semakin “familiar” dan sering mendengar sebutan ini. Reaksi Novie awal? Gatal, geli dan jarang nolehkan kepala, bukan bermaksud sombong tapi memang tidak terbiasa dengan sebutan itu. Tapi, sebenarnya panggilan Cece juga tidak apa-apa dan sangat sah-sah saja, tidak menyalahi siapa-siapa (mengingat adanya keturuan Tionghoa – meski sangat teramat kecil prosentasenya tadi :-P )
But, now, I’m live with it! (read: walau – jujur – masih sering kali berasa “menggelitik” jika mendengarnya :-P )

3. Mbak (read: bahasa Jawa – saudara wanita yang berumur lebih tua)
Mbak, Novie dapat waktu kuliah di Surabaya, panggilan umum di sana adalah Mbak (untuk orang wanita) dan Mas (untuk orang pria). Panggilan Kakak adalah hal yang kurang umum di dunia perkuliahan (read: waktu itu setau Novie begitu), berasa seperti Kakak pramuka katanya dan biasanya panggilan Kakak itu cuma berlaku di perkumpulan mahasiswa – panggilan untuk Kakak bombing rohani. Jadi, mau bermata sipit, berkulit putih, cakep, cantik, ganteng, manis, semua dipukul rata Mbak dan Mas. Lucu dengernya? Agak sih! ^^
Di tempat Novie bekerja, Novie juga sering dipanggil dengan sebutan Mbak. Mengapa bisa bertahan dan sah-sah saja? Karena memang tidak salah, Papa Novie orang Jawa tulen, orang BaLITAR (read: BLITAR) asli, jadi panggilan Mbak buat Novie juga gak salah lo! :-) That’s reason why – again – I’m live with it! :D

4. Nik – Nonik (read: Bahasa Tiongoa – kidul pasar – anak wanita biasanya dibuat untuk anak masih kecil atau ketika kita lupa namanya :-P )
Nonik/Nik, pernah Novie dengar pada jaman Novie masih kecil dan sampai sekarang pun ada beberapa Oma/Mak yang memanggil Novie dengan sebutan itu. Cuma, kalo Novie dengar berasa Novie ini bukan “young lady” but still being a primary-school student :-P
Kemudian, apakah menjadi salah jika ada yang menyebut Novie dengan panggilan “Nik”? Tidak salah! Tapi, Novie bisa menerima ini terkhusus untuk selevel Nenek/Kakek/Mak/Opa/Oma/Kung/Eyang lo! :-P (read: lihat alasan nomor 2 – agak mirip kasus ceritanya). Hanya, dulu Novie berpikirkan jika ada yang memanggil dengan sebutan Nik itu memanggil Mama saya, yang namanya Melyn ErnaNIK – yang terkadang di panggil Nik. Malah, sampai sekarang jika Novie lagi “hyper-sensitive-period”, Novie bakalan jawab orang yang memanggil Nik dengan “Loh, saya ini Novie bukan Nik, Nik itu mama saya, Melyn ErnaNIK dan sering juga dipanggil Nik.” Hehehehe ;) *no hurt feeling yaaaaaa.. :-D

5. Tante / Ayi (read: bibi dalam bahasa Indonesia Umum)
Tante, baru sering dapat akhir-akhir tahun ini, setelah Novie punya keponakan, setelah Novie mengajar Sekolah Minggu (walau sering kali ‘insist’ minta di panggil Kakak :-P ). Jadi, panggilan ini sah-sah serta tidak akan membuat alis mengerenyit, jika panggilan itu keluar dari keponakan Novie atau anak teman Novie yang seumuran dengan Novie. Karena gak mungkin juga, klo Ibunya seumuran Novie, anaknya manggil Novie dengan sebutan Kakak kan? :-D Tapi, ini tidak berlaku untuk teman-teman lain ya. Alasannya simple, karena “tante” satu ini belum ada “om”-nya, nanti klo sudah ada “om”-nya baru boleh dan secara sah bisa dipanggil “tante”. Deal?!? #salaman# :D ;)

6. Ibu
Ibu, the last! Apakah perlu disebutkan kenapa panggilan ini “teramat-sangat-ganjil” didengarnya???? Jawabannya simple juga kow, karena belum ada “Bapak”-nya rekan/teman/adek sekalian dan lagi Novie kan not-married-YET! See, that caps lock word? YET = BELUM! Jadi, klo sudah married kan sudah ada Bapak, barulah panggil saya dengan sebutan Ibu … (read: bisa tetep Ibu Novie atau Ibu [nama Bapaknya] nanti :-P )

So, the recapitulation for all explanation is …
Please if you mind – and I would be so appreciate your kind attention – if you’re called me with Kak Novie (or maybe my other nick name [nobie, noph, novie, nono, nophie, owen] – without bla-bla-thing-in-front-of-it).
Namun, pada intinya dipanggil apa aja bisa kow! Pokoknya Novie dan “si pemanggil” sama-sama ngerti maksudnya gitu! :-P
Jadi, yang sudah “menyamankan diri” dengan menyebut Novie sebagai Ce Bie, Cece Novie, Ce Novie, Mbak Nobie, Mbak Novie, monggo dilanjut karena semuanya sah-sah saja kow! :-D
But, please I begging you…Gak perlu Tante (kecuali keponakanku) dan Ibu yaaaaa… Belum saatnya soalnya..Hihihi :-P ;) :-D :)

Goodbye Subaru. Welcome REDDISH!

Posted: 11th March 2012 by owenshinoda in C'est la vie

Tuhan selalu membuat segala sesuatunya indah pada waktu-NYA.

Itu sungguh nyata! Dan ternyata “sesuatu” itu tidak perlu harus “sesuatu” yang “besar” seperti pekerjaan, studi, sekolah, kuliah, teman hidup, cicilan apa gitu. Bisa juga “sesuatu” itu adalah “sesuatu” yang (mungkin orang lain bisa lihat) simple. Tapi kali ini, emang rasanya orang pasti bilang itu simple, cuma buat Novie ini adalah jawaban Tuhan yang tepat waktu dan tidak pernah Novie bayangkan atau pikirkan sebelumnya.

Dari judulnya, pasti buat yang tahu apa itu Subaru pasti ngerti ini tentang apa. Well, actually Subaru adalah kepanjangan dari aSU* serBA BirU [read: laptop pertama yang Novie punya – belum habis cicilannya – kenapa pertama, berarti sudah ada yang kedua ya? Benar dan post ini akan sharing tentang bagaimanakah kejadiannya].

Subaru sudah Novie punyai sejak akhir Agustus 2011, excited have this new gadget yang diingin sepanjang masa. Jadi dari punya Subaru ini, hobby cerita dan menulis bertumbuh lagi. Jadilah, Novie punya blog ini – karena blog lama lupa passwordnya :-P Sering, Novie bawa ngampus dan ngantor juga sih! Dengan tas laptop pelindungnya berwarna merah serta tas ransel warna merah juga – kenapa MERAH? Read more over and you’ll found it why. :D

Ada apa dengan Subaru? Setelah kira-kira 2 bulan, Subaru mengisi hari-hari ku, mendadak di malam itu. Setelah menghabiskan waktu pulang dari kantor bareng Sist Deph-Oliph ma Xen makan pangsit mie lapangan, Novie temui bahwa kondisi layar Subaru “agak” aneh, anehnya adalah waktu di nyalakan warna dominannya adalah MERAH! Trus berbintik-bintik, Novie pikir mungkin karena harus di charge dulu baru di nyalakan. Akhirnya Novie colokkanlah Subaru di arus listrik, setelah di login lagi ternyata tetep jadi MERAH begitu. Apa yang Novie rasakan? “Agak” syok aslinya, karena baru beli bulan Agustus 2011 kapan hari eh, ini bulan November 2011 udah ada masalah.

Ada apa dengan Subaru? Karena gak begitu paham betul dengan penyebabnya, Novie langsung ambil langkah awal untuk info perihal ini ke tempat Novie beli Subaru [read: kan masih garansi full – orang baru hampir 2 bulanan di pakai :-( ]. Jadi, besok pas ke kantor Novie bawalah Subaru untuk dicek-up. Berita yang pertama Novie dengar setelah Subaru dicek-up adalah ada hardware yang error, kabel fleksibelnya putus, mungkin karena pemakaiannya.. O_oa :-O

Ada apa dengan Subaru? Jadi heranlah Novie, orang yang namanya Subaru itu mesti di sayang-sayang Novie belikan aksesoris laptop serba biru (untung “belum” sampai lengkap-lengkap amat, lek lengkap banget malah bisa berabe kecewanya :-( ). Singkat cerita (karena kalo diceritakan lengkap, banyak hal-hal aneh yang buat Novie jadi keingetan dan buat “sedikit” not in the mood at the moment :-P ), Subaru (read: setahu Novie) sedang “pindah rumah” untuk service di Surabaya sana.

Ada apa dengan Subaru? Menunggu selama hampir 4 bulan, tak ada kabar berita. Ternyata “sesuatu” [read: terlalu complicated kalo ditulis dan dishare di sini, if you want the detail story please inform me later :-P ] telah terjadi, yang menyebabkan Subaru (ada kemungkinan) tidak akan kembali ke Novie. Katakanlah, Subaru menghilang di telan bumi! :-D But, God is good all the time.  Orang yang jual Subaru bertanggungjawab dengan mengganti Subaru dengan (1) uang cash seharga Subaru (2) ganti barang dengan speck seperti Subaru. Akhirnya, karena asas manfaat dan sudah “capek” dengan urusan Subaru serta masukan dari beberapa my-wise-man-list dan feeling yang (mungkin) Novie dapat dari Tuhan, Novie memutuskan memilih pilihan pertama. Life is a choice, no matter what you’ve already chosen have its consequence.

After got that cash back, Novie sudah memutuskan bahwa Novie bakalan memenuhi “keinginan” dahulu yang sempat “terbelok”, yaitu milih DELL warna MERAH [read: dari dulu waktu nonton Insert di TV mesti “ngiler” lihat laptop DELL merahnya :-P ]. Trus, belajar dari Subaru kemarin, Novie beli langsung ke authorized dealer (ben aman terkendali dan aman terpercaya gitu :-D ), yang sepertinya sudah di atur oleh Tuhan sebelumnya, di tempat Novie beli ada kenalannya adik-ku-yang-cerah-ceria-Xen ;-) . Jadi, lebih enak ngomongnya.

Dan akhirnya saudara-saudara, pada tanggal 7 Maret 2012, DELL Inspiron warna MERAH sudah ada di Novie and I named it REDDISH (arti kata bisa di browsing di google ya :-P , intinya pokoknya MERAH gitu deh! :-D ). Dan ini menjawab, kenapa waktu beli tas laptop ma ransel laptop itu warnanya harus MERAH, karena dari awal yang harusnya Novie punya emang si MERAH ini [read: kesimpulan pribadi Novie :-P ]


Yeiy! Ud bisa sering posting blog nih ceritanya! Nantikan posting saya yaaa.. ;-) (berasa yang baca blog ini banyak aja yaaaa.. :-P )

Give thanks to GOD, yang menjawab permasalah “kecil” ini tepat waktu [read: karena Juli semakin mendekat – yang artinya tugas rutin tahunan di kantor juga semakin memanggil-manggil untuk diselesaikan dan yang pasti ngajak begadang gitu, jadi kan mending begadang di rumah bareng REDDISH :-) ].

Thanks a bunch! Esp. for adikku-yang-cerah-ceria-Xen, Peter, PakSuper buat bantuannya. Friend in need is a friend in deed, for sure!! :-)

Me and Basket

Posted: 10th March 2012 by owenshinoda in Just a Word..

Me and basket, aslinya Novie kenal yang namanya basket itu dari jaman masih pke seragam biru putih, siapa yang ngenalin? Guru olahraga ma my best-buddies-ever (buddies = plural = banyak orang). Dari merekalah, novie juga suka olahraga ini, walaupun kata salah satu my best-buddies berindikasi bahwa Novie ikutan basket hanya karena “kakak kelas” tampan itu [read: dulu Novie anggap tampan]. Di jaman itu dlu, Novie paling gemar ma nonton pertandingan basketnya luar sekelas LA Lakers, Chicago Bulls, Detroit Piston, dkk. Sampai, sempet koleksi kartu-kartunya lo! Itu jamannya Michael Jordan masih berjaya-ria. Dan, buktinya sampai sekarang lo, Novie juga tetep “doyan” yang namanya basket-an [masio – jujur udah jarang nonton basketannya luar]. So, please do some correction in your mind! You just don’t know me so well! :-P

Me and basket, masa-masa di mana mendadak hobby basket-an menghilang adalah sejak ada glasses nempel di idung – di sangkutkan di telinga [entah, macam mana pula ceritanya glasses [read: kaca] ini bise nempel begini. Turunan keluarga mungkin atau memang cara baca yang “cenderung” tidak sehat, padahal jaman itu tuh, jarang yang namanya baca buku – adanya ya, baca pelajaran [read: buku itu harusnya yang membuat pembacanya bersemangat membaca, bukan berisi rumusan-rumusan atau angka-angka gitu  :-P ]. Masa itu adalah saat Novie duduk di bangku SMA, udah rumah “lumayan” jauh, kira-kira 1 jam perjalanan dengan 3 kali ganti angkot dari rumah – SMA pulang pergi. Dengan perjalanan yang cukup jauh dan [jujur] beban pelajaran yang udah gak seperti SMP lagi (ya iyalah Non, klo sama ya buat apa dari SMP pke SMA, klo sama ya mending dari SMP langsung kuliah laaa.. :-P ), akhirnya hobby itu “menghilang” di tengah kesibukan SMA.

Me and basket, mulai mencintai-nya lagi ketika ada di Surabaya. Di mana depan kostan ada lapangan basket jadi bisa ikut-ikutan main atau sekedar nonton permainan basket saja sudah cukup buat Novie. Secara, gak muin masuk tim basketnya UA dengan badan se”imut” saya [read: Novie kan tingginya cuma 155cm, mau di”gencet” ma bola ta?? :-P ). Trus dari Surabaya juga, selama 5 tahun Novie tau ternyata nonton basket dan teriak-teriak memberikan semangat kepada para pemain di lapangan itu mengASYIKkan and well suddenly I’m become addicted with that! Scream out of load when they’re weak, crying over when they’re lose, jumping-happy when they’re win - with a little bit tears of happiness :D . Just by doing that, I feel like I’m already in FIELD and playing with them (so deep meaning – if you’re need more information about that feeling please do not hesitate to contact me privately :-P ).

Me and basket, saat ini detik ini, when I typing this post – Novie berpikir bahwa hubungan me and basket gak hanya terjadi saat Novie yang main bola. Because, as I already wrote above, hanya dengan melihat dan berteriak-bersuara-memberikan curahan serta limpahan energi kami kepada para pemain di lapangan itu berasa kita udah main di lapangan itu bersama-sama dengan mereka. Karena kita merasakan luapan emosi yang sama dengan para pemain di lapangan. Sewaktu meraka gagal shoot – layup – rebound – tri point shoot, Novie yakin bahwa mereka pasti sama (bahkan bisa lebih) kecewa daripada kita. Sama halnya, di saat mereka melakukan shoot – layup – rebound – tri point shoot dan berhasil, mereka juga merasakan kebahagiaan – kebanggaan yang kita rasakan (bahkan (lagi) lebih :D ).

Me and basket, dari permainan ini Novie belajar bahwa di mana ada pemenang pasti ada yang kalah. Tapi hal yang membuat kita dewasa adalah di saat kita sebagai penonton bisa merasakan perasaan yang sama [read: berbagi rasa] dengan para pemain baik di saat MENANG maupun KALAH. Tak ternilai harga yang dapat Novie pelajari dari olahraga ini. Bola itu bulat, kita tidak pernah tau tim kita kalah atau menang sampai peluit quarter ke 4 di tiup, sebagai tanda akhir dari permainan.

Me and basket, semoga dari point of view yang sudah Novie “jelenterehkan” di atas, menyadarkan pihak-pihak terkait bahwa Novie tidak bermain dan menonton basket hanya karena faktor si A, si B, ataupun si Z. Novie main dan menonton basket, karena Novie suka basket. Ya, klo emang ada “bonus” lebih – bisa melihat adorable-unhateable-person di sana, anggep aja itu bonus selama masih bisa “dinikmati”. Coba tunggu la, sampai si Captain itu lulus, masih gak ya kira-kira Novie bakalan main dan nonton basket?? [read: padahal katanya bukan kapten di tim basket, tapi gpp ta anggep aja kaptennya #sakkarepku :-P ]. Tunggu la, jawabannya. Tapi, klo mikir dan berpendapat bahwa Novie main dan menonton basket hanya karena Captain.. I just can say that “you just don’t know me so well!!!

PS. Thanks a bunch for this word, Dito ~ sister-and-also-partner-in-crime!! “they just don’t know me so well!!”
::lots of kisses and big-warm-hug::

For the first time [part 1]

Posted: 27th September 2011 by owenshinoda in C'est la vie

For the first time, that’s the title of my post today… Did you wondering why? That’s because there’s a lot of “the first time” I’ve dealing recently, all that happen because of GOD’s amazing plan for my life.

For the first time… Akhirnya, setelah berumur lebih dari seperempat abad, Novie merasakan bagaimana rasanya naik pesawat. Tujuan emang dekat sih, “cuma” Jakarta – Malang. Jarak yang untuk orang pekerja yang merasakan jalan “udara” ini sebagai jalannya sehari-hari [berasa klo Novie berangkat dari Gunung ke Villa gitu :D ] biasa dan dekat :-P Ada acara pelatihan Novie dikirim oleh kantor. Dari runtutan kejadiannya, Novie benar-benar merasa bahwa TUHAN memang membuat segala sesuatu indah pada waktuNYA. Acara pelatihan ini sebenarnya dan seharusnya diikuti oleh 6 orang dosen [karena jika kita mendaftarkan untuk 5 orang akan tersedia gratis 1 orang], namun karena kesibukan dosen yang “luar biasa” kepelatihan itu kemudian dialihkan untuk pada staf yang baru diangkat kemarin. Sangat tidak diduga, pada siang hari sebelum jam makan siang dimulai, manager tetangga mendatangi dan terjadilah percakapan itu. Dengan manager tetanggap yang tapes dan Novie yang peringas-peringis. Awalnya kupikir tawaran itu hanya “sebuah angin lalu”. Tapi tidak lama kemudian, Novie menerima email tentang konfirmasi jam keberangkatan untuk mengikuti pelatihan di Jakarta bersama 5 kolega lain [orang pria yang adalah dosen bersama 3 dara wanita yang menjabat menjadi Kepala Bagian *entah mungkin karena para Direktur dan Manajer pada sibuk, jadi kami dapat “jatah”..]

For the first time… Sejak diterimanya email itu, Novie berasa antara percaya tidak percaya, langsung beranjak dari kursi dan menanyakan perihal email itu kepada manager tetangga – yang ternyata tidak ada. Jadi, Novie memutuskan untuk menunggu. Eh, ternyata Mr. Smile [Bapak yang sangat murah senyum – berkantor sebelah meja Novie] bertanya *dengan nada yang menegaskan* tentang keberangkatan Novie. Setelah, Novie tahu ternyata Mr. Smile yang menyarankan, mengusulkan dan memutuskan Novie untuk pergi – serta mengijikan ke Ibu-ku juga :D [trima beres dah!!!]

For the first time… Ternyata itu benar, minggu – hari – jam – menit – detik berasa cepat berlalu dan sampailah kepada hari H yaitu hari Senin, 26 September 2011 yang lalu. Novie merasakan bagaimana naik pesawat itu. Berangkat mengunggu dari rumah papi-mami suPrita suGanda di Urip, bareng mobil kampus dari sana. Dan ternyata sampai di bandara malang masih cukup siang, jadi kita ada yang makan siang dulu. Setelah cek-in, ternyata bandara malang penuh sesak dengan orang dan udaranya “cukup sangat” panas… Dan, akhirnya setelah menunggu kurang lebih 1 – ½ jam, terdengarlah suara “Pesawat Sri****** Air dengan tujuan Jakarta telah mendarat”…

For the first time… Novie baru tau, begini to bentuknya pesawat, ini to pesawatnya nanti, begini to caranya cek-in, ini to yang namanya pesawat, ini to isinya pesawat dan banyak hal-hal yang sangat baru yang kupelajari dan ku-explore sebisa mungkin mata ku melihat dan pikiranku menjelajah. Ternyata *mungkin karena bandara di malang agak kecil* jadi pesawat yang katanya Bubu juga terbilang kecil itu, harus mengambil jalan memutar balik dulu sebelum take-off.

a view from my seat

For the first time… Ternyata begini to, rasanya take-off…

For the first time… Afraid? No!!! Excited? Absolutely YES!!! :D

For the first time… Rasanya seperti naik lift, dalam jangka waktu kurang lebih 1 jam. Dari take-off, pesawat menukik tinggi, keren rasanya. Dan setelah sudah di atas, penerbangan stabil. Untungnya, atas kebaikan suPrita suGanda dan Bubu, Novie jadi bisa duduk dekat jendela dan meng-explore gumpalan awan-awan yang semakin lama tampak semakin cantik, menarik dan seperti bisa diraih.

For the first time… According to God’s plan, I can fly high, I can go up to that blue sky and windy cloudy…

1 x 2 meter

Posted: 15th September 2011 by owenshinoda in C'est la vie

Ukuran ini pasti sering kita dengar atau setidaknya kita pakai dalam kehidupan sehari-hari. Entah itu berupa ukuran kayu, kain, atau yang lain. Tapi, ukuran kali ini yang mau Novie lihat adalah… Ukuran itu ternyata yang akan dipakai saat kita sudah ada di “balikpapan”.

“balikpapan” yang berarti tubuh kita hanyalah seonggok daging tanpa nyawa dan roh. Di mana tubuh kita terpisah oleh roh dan nyawa kita. Saat kita mengucapkan selamat tinggal kepada dunia yang fana, tubuh yang punya usia dan bisa renta ini dan berganti kepada tubuh, roh dan jiwa baru yang kita dapatkan dengan harga yang mahal. Nyawa seorang Anak Tunggal dari Bapa di surga yang membuat kita memiliki tubuh itu.

Back to the topic…

1 x 2 meter. Memang ukuran yang biasanya di pakai untuk meletakkan tubuh kita tadi di “balikpapan”. Ada beberapa keluarga yang mungkin karena tradisi tidak memakai ukuran ini, tapi mereka meminimalisir ukuran hanya seukuran kotak kecil, atau ada yang karena kekayaan yang luar biasa [dan/atau kepercayaan terhadap penghormatan tinggi akan nenek moyang mereka] memaksimalkan ukuran ini.

1 x 2 meter. Seyogyanya menjadi ukuran “rumah” yang dimiliki tubuh tak bernyawa dan ber-roh nanti. Bisa dibayangkan tidak, hanya seukuran itu… Untuk apapun yang telah kita bangun, apa yang telah kita capai, apa yang telah kita impikan, apa yang telah kita harapkan. Tapi, apakah karena ukuran “kecil” itu bisa mengurangi TUJUAN kita untuk hidup di dunia ini?

1 x 2 meter. Memang ukuran yang “kecil”. Tapi selama tubuh kita memiliki nyawa dan roh, baiklah kita membuat “rumah” yang kita punya sekarang sebagai bait ALLAH, menjadi berharga. Agar saat kita sudah berada di “balikpapan” orang tidak melihat kita sebagai “orang yang ada di tempat seukuran 1 x 2 meter”. Tapi, di saat mereka “mengunjungi” kita di “balikpapan” mereka mengingat apa yang kita lakukan. Apa yang kita tabur itu yang kita tuai, dengan harapan jika kita menabur sesuatu yang baik, kita akan dapat menuai yang baik.

1 x 2 meter. Apa yang kita harapkan ketika orang lain [entah itu dari keluarga sedarah maupun saudara ipar, saudara jauh, bahkan orang lain yang karena selama kita hidup pernah “tersentuh” oleh kita] pikirkan dan ingat sewaktu mereka mengunjungi “rumah” kita? Hal baik kah? Hal buruk kah? Sukacita kah? Dendam kah? Rindu kah? Bangga kah?

1 x 2 meter. Selama kita hidup, terkadang bahwa sering kali kita berpikir bahwa kita hidup hanya 1 kali. Karena alasan itu, kita bisa hidup “seenak udelnya”, berkonflik, menyakiti, berbuat dosa… Untuk hal-hal yang sifatnya internal bisa diperbaiki, tapi untuk hal yang berhubungan dengan orang lain, baiklah kita memikirkan kembali TUJUAN HIDUP kita di dunia. Kita punya visi yang TUHAN sudah taruh dalam diri kita, karena TUHAN yang merencanakan kita ada di dunia. We’re live in this world for some purpose and absolutely that was GOD’s purpose. Seperti pemazmur berkata “… dalam kitab-MU semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya” [Mazmur 139 : 16] dan rasul Paulus juga mencatat “Karena kita ini buatan ALLAH, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang telah dipersiapkan ALLAH sebelumnya. IA mau supaya kita hidup di dalamnya” [Efesus 2 : 10]

See… Semuanya sudah ditulis dan dipersiapkan ALLAH, tinggal pilihan di tangan kita [karena kita punya free will [lain kali Novie bakal sharing tentang apa sih free will itu]. We choose to being and doing a good thing or bad thing? The option is yours… :) :D

* Sedikit “menyerenyitkan” dahi kah saat membaca ini? Sebenarnya ide dari post ini berasal dari liburan kemarin 1 mingguan kira-kira. Selama 1 minggu itu, Novie pergi mengunjungi “rumah” mbah, emak, mak cilik, mbah-mbah dan mbah buyut dan saudara-saudara mbah dan emak. Dari sana, apa yang Novie dapatkan? Novie dapat ide untuk menulis sesuatu tentang tempat di “balikpapan” yang berukuran 1 x 2 meter. Waktu mengunjungi itu, ingatan Novie teringat kepada masa lalu bersama Mbah, Mak dan Mak Cilik, karena Mbah, Mak dan Mak Cilik adalah orang yang Novie masih “sempat” temui dan Novie ingat dengan kenangan-kenangan dengan mereka. Apa yang Novie ingat? Puji TUHAN, semuanya adalah hal-hal yang baik. Tidak terbesit sama sekali kenangan buruk, Mbah, Mak dan Mak Cilik, adalah figur yang Novie kenang dan Novie ingat sebagai sosok yang sudah tidak muda, tidak pandai [jika dilihat dari latar belakang pendidikan], sudah tidak tangkas [tapi Mak Cilik setiap hari tetap menyuapi Novie makan siang (Novie masih umur 3 – 5 tahunan), *maaf* menceboki Novie dengan tidak jijik and a bunch of other things] dengan garis keriput di mana-mana. Tapi sepanjang hidup mereka, mereka tidak pernah “menyakiti” Novie, mereka selalu ada untuk Novie. Teringat sewaktu Mbah, membelaku saat mama Novie “marah besar” [waktu Novie SMP dan Mbah dipanggil Tuhan saat Novie kelas 3 SMA >>> kepada Mbah-lah Novie sepulang ujian EBTANAS/UNAS SMA yang “agak berat” pergi dan bercerita tentang soal-soal EBTANAS yang sulit dan dijawab “Wis gak popo lek gak iso, sing penting wis dikerjakno. Pokoke belajar sing genah nduk, ben jadi wong sukses dan nyenangno mama papamu” *tears goes down… :-( ], sewaktu Mak Cilik [harusnya Novie memanggil dengan mak buyut secara Mak Cilik itu ibunya Mak/nenek Novie, tapi karena tubuh Mak Cilik yang memang “cilik” seluruh cucu/cicit memanggil ‘Mak Cilik’] membelikan minuman sprite yang menjadi kesukaan Novie saat itu [Mak Cilik dipanggil Tuhan, saat Novie kelas 1 SD] dan sewaktu emak selalu memberikan ciuman di dahi-pipi kiri-pipi kanan-dagu [yang membentuk tanda salib – karena emak seorang Katholik] sebagai doa untuk cucunya [Mak dipanggil Tuhan waktu Novie kuliah semester akhir]. They might be don’t know, that they already have touched my life so deeply… Thank you GOD, for sending and giving to me the best grandmother and great-grandmother ever!!! :D

"rumah" Mak Malang di Sukun

"rumah" Mak Malang di Sukun

"rumah" Mak Cilik di Lasah

"rumah" Mak Cilik di Lasah

"rumah" Mbah di Lasah

"rumah" Mbah di Lasah

** Biarlah kiranya Novie diingat yang baik-baik, seperti Novie mengingat Mbah, Mak dan Mak Cilik. Jika pun pernah ada “duri”, semoga Novie bisa menyelesaikan “duri-duri” agar semua yang baik saja yang diingat and leave out all the rest then… :D :)

*** Back sound Leave Out All the Rest by. Linkin Park [Minutes to Midnight]

When my time comes forget the wrong that I’ve done…
Help leave behind some reasons to be missed…
And don’t resend me and when you felling empty keep me in your memory..
Leave out all the rest… Leave out all the rest…

..think positive to be a positive..

Posted: 22nd July 2011 by owenshinoda in C'est la vie

Mendadak tercetus ide menulis tentang “positif”..

Bukan karena Novie ini orangnya positivism lo yaa.. Hanya saja, tanpa kita sadari pikiran dan kehidupan kita “diracuni” oleh pemikiran-pemikiran buruk yang membuat kita semakin bertambah “buruk”.. Entah buruk muka atawa buruk hati.. Padahal dengan berpikir positif hidup bisa lebih nyaman.. Life is hard but we can make it more simple with what we though about it..

Ceritanya berawal dari seorang intern [karena namanya intern berarti bukan orang asli Indo] yang mendadak melihat “dunia” Indo plus orang -orang didalamnya are lazy people..

Reaksi pertama saat mendengarnya adalah >> biasa saja, karana budaya sana beda dengan budaya sini..
Setelah dengar kedua kalinya ada perkataan itu >> agak tertohok?!? :-o “Maksudmu Dek??”
Reaksi ketiga >> Kagak bisa dibiarin ni anak!!!

Saat dikonfirmasi balik, ternyata dia melihat bahwa orang Indo lebih suka jalan yang instan, such as:

  1. Bukannya jalan kaki dari gedung 1 ke gedung yang lain untuk bertanya [entah bertanya masalah yang benar-benar urgent atawa cuma mau nanyain apa gedung sebelah punya 'gorengan' untuk di makan!], eh malah suka YM / pake alat chat lain..
  2. Bukannya jalan kaki dari sini ke sana tapi wira-wiri dengan motor..
  3. etc.. dll.. dsb.. aslinya banyak sing diomong.. cuma maapkan mendadak telinga Novie ndak mau dengar (“,)v

Dan pas orang Indo ditanya kenapa harus begitu, bagi dia ndak ada yang “bisa” dan “sanggup” memberikan jawaban realistis yang masuk di akalnya..

And then, ku jawablah..

  1. Intinya karena masalah efisiensi. Berapa banyak waktu yang dibutuhkan orang untuk jalan dari gedung 1 ke gedung yang lain? Kan lebih cepat YM, begitu klik “enter” langsung teman di gedung sebelah bisa baca dan reply. Banyak waktu yang bisa di hemat, Bung! :D
  2. Karena loading. Orang kantor paling suka kata ini, rasanya ini bisa dimasukkan dalam kosakata yang paling di “like” gitu. Semisal acara TV, kata loading ini mendapatkan rating tertinggi di kalangan pemirsa di bumi :) ). La bayangkan, klo kerjaan udah setumpuk gunung buring dan sepuncak tidar? Dari pada buang waktu untuk jalan, mending YM kan? ;)
  3. Nti lek ketemu jawaban lain, mo ta beri tahu lagi. Tadi cuma kepikirian dua hal ini sahaja, rekan-rekan.. Jadi jika ada ide, mohon email ke Novie yaa.. :D

Setelah dapat jawaban ini, dia berpikir sejenak [entah karena tertohok ato karena masih "mencerna" bahasaku yang Novie akui gak bagus-bagus amat juga gak jelek-jelek amat :D ]
Karena ndak direspon-respon Novie tutup dan akhiri saja pembicaraan tanpa sengaja di sore hari nan cerah-berangin sejuk yang sangat menyenangkan itu [cuacanya] dengan kalimat:

Thinking positive to be a positive

Dia kemudian menimpali dengan respon yang cukup positif  “Okey, I’ll do.. Thank you and see you around again..”

Buat orang lain, mungkin berpikir ngapain yaa,,, Soal begini aja di buat ribut?!? Bukan masalah mau dibuat ribut ato tidak, cuma perspektif yang “salah” itu lek kita masih punya “daya” dan “rasa” baiklah dibenarkan.. Bukan untuk menjadi kan orang lain seperti yang kita mau, hanya saja agar orang lain tahu “nilai” apa yang kita pegang yang mungkin bagi meraka itu tidak “bernilai”.

Jadi untuk dia..

So sorry, I never mean to be rude.. Just, don’t be a great complainer which also had bad prejudice, because that’s could ruin your charm :D ;)